Selasa, 24 Mei 2016

Gili Kedis, Yang Mungil dan Manis



Namanya Gili Kedis. Saya mendengar namanya justru dari sebuah postingan di media sosial. rasa penasaran muncul saat melihat bentuk pulau ini dari photo udara. Bentuknya unik. Seperti bentuk jantung atau lambang love. Satu saat saya berkesempatan untuk menjelajahi pulau ini.

Pulau kecil ini, sebetulnya bukan tujuan utama saya menjelajah. Tapi kepada pemilik perahu yang mengantar kami mengarungi perairan Sekotong, Lombok Barat, saya minta untuk diantar ke Gili Kedis (Kalau di Google Map tertulis Gili Bedis).
Saat perahu kecil yang kami tumpangi berlabuh, saya langsung takjub dengan keindahan pulau mungil ini. Saya tidak sabaran untuk segera melopat dan menginjakkan kaki di pasir yang putih dan lembut. Gili Kedis memang mempesona. Dengan ukuran mungilnya, pulau ini menjadi tampak cantik. Tak perlu waktu lama untuk menjelajahi seluruh pulau dengan ukuran lebih kecil dari lapangan bola ini. Sekitar sepuluh atau sebelas menit, seluruh pantainya akan habis kita jejaki.

Saat pertama kali berkunjung, tak banyak orang di pulau ini. Hanya beberapa orang yang duduk dan mempersilahkan kami untuk ikut bergabung menyantap makanan. Waktu itu sinar matahari terasa menyengat, namun sengatannya tak terasa oleh keindahan yang disuguhkan oleh Gili tanpa penghuni ini. Beberapa pohon yang tumbuh menjadi tempat berteduh. Pemerintah membangun berugak  sebagai tempat para wisatawan melepas lelah. Kelebihan pantai ini adalah airnya yang jernih. Selain kejernihan yang mengelilingi gili ini, Gili Kedis memiliki alam bawah laut yang indah. Keindahan terumbu karangnya masih cukup terjaga sebagai habitat dari berbagai jenis ikan. Di satu sisi terdapat pasir putih yang lembut dengan ombak yang relative tenang, sedangkan di sisi lainnya teradapat bebatuan yang tergerus oleh ombak. Bagai penyuka snorkeling, bawah laut gili Kedis layak dijadwalkan dalam daftar penjelajahan.

Agar anda tidak bosan karena ukuran gilinya sangat kecil, maka spot ini sebagiknya tidak dijadikan sebagai tujuan utama. Kita bisa melanjutkan penjelajahan ke Gili terdekat agar tidak rugi di ongkos. Mintalah untuk diantar juga ke Gili lainnya kepada pemilik perahu.

Pohon Lian : Yang Tersisa dari Masa Lampau

Traveling, adalah cara belajar paling efektif untuk menemukan atau mengantarkan kita pada kesadaran akan kehebatan Tuhan dengan karya indahnya. Dalam setiap perjalanan aka nada sesuatu yang baru dan berbeda. Meskipun saya beberapa kali menginjakkan kaki di Tanjung Aan, namun selalu ada hala menarik di kawasan itu. Entah itu keindahan, detail material pantai, atau ikan-ikan yang tiba-tiba berubah jinak mendekati saya saat menyentuh perairan yang dangkal. Begitu pula dengan sesuatu yang saya akan ceritakan berikut ini. Tentang perjalanan bebearapa waktu lalu bersama beberapa orang teman yang hobinya jalan-jalan. Saya tidak ingat berapa kali melakukan perjalanan dari arah Labuhan Lombok menuju utara. Tapi saya tidak tahu bawa di dalam perjalanan menuju utara dari Labuhan Lombok terdapat sekumpulan pohon pohon raksasa, yang berasal dari jaman lampau. Itulah pohon Lian.  Mungkin saja selama ini saya tertidur di perjalanan, hingga tak sempat melihat atau saya melihat tapi tidak pernah punya kesempatan untuk turun mengamati pohon-pohon besar tersebut. Pohon berukuran raksasa ini berada di pinggir jalan.
Tepatnya kumpulan pohon lian ini berada di dusun Menanggabaris, desa Gunung Malang, Pringgabaya, Lombok Timur. Lebih tepatnya lagi, hutan ini berada tepat di depan pantai Pidana. Konon nama pantai Pidana lahir karena kawasan tersebut merupakan milik Lapas Selong Lombok Timur.
Lokasi pohon ini memang baru-baru diperkenalkan atau menarik perhatian. Dulunya orang hanya sekedar lewat dan melihat dari dalam kendaraan sambil berdecak kagum. Kagum akan keindahan dan ukurannya yang besar. Saya dan teman-teman mnerasa kecil sekali berada di antara pohon-pohon ini. Rasanya seperti menjadi kurcaci seperti dalam film-film Holywood. Jika dulu kita gratis memasuki kawasan ini, sekarang setelah ramai dikunjungi warga setempat menarik uang parkir bagi para pengunjung. Di kawasan itu juga terdapat berugak atau saung-saung yang berderet, tempat pengunjung bisa duduk-duduk menikmati suasana yang nyaman.
Menurut penuturan orang lokal, tanaman ini ditanam oleh penjajah Belanda. Artinya pohon-pohon yang batangnya mencapai empat puluh sampai limapuluh meter dan diameter mencapai lima meter ini, telah berusia ratusan tahun. Sayangnya pohon yang dulu jumlahnya cukup banyak ini, tidak bisa berkembang biak. Dulunya pohon-pohon Lian jumlahnya mencapai ratusan dan tumbuh sampai kaki gunung dan bukit-bukit di sekitarnya. Sekarang  pohon-pohon ini sudah hapir punah. Orang –orang kampung menggunakan kayu ini menjadi perahu dan bahan bangunan. Untunglah pemerintah menjadikan areal pohon lian yang tersisa menjadi lahan konservasi
Jika menjadi kawasan konservasi, saya merekomendasikan agar kawasan ini steril saja dari gangguan para pengunjung. Sebab di sana-sini terlihat banyak coretan dan goresan tangan yang merusak keindahan dan keaslian pohon. Begitu juga dengan keberadaan berugak yang sejatinya akan mengganggu kalau tidak boleh dibilang merusak keberadaan pohon-pohon yang tersisa.
Kini lokasi ini banyak dijadikan tempat shooting video klip lagu daerah atau  photo pre-wedding. Bagi yang mau berkunjung tolong jangan ganggu dengan mencorat-coret pohon ini. () -03

Senin, 16 Mei 2016

Gili Bidara, Taman Laut Sejuta Pesona

Tidak salah orang menyebut Lombok dan Sumbawa sebagi kepingan surga di bumi. Tempat-tempat indah terhampar dari ujung Sape hingga Ampenan di Lombok. Kali ini saya ingin menceritakan jejak perjalanan kami ke Gili Bidara. Sebuah gili yang terhampar di utara Dermaga Labuhan Lombok. Dari beberapa gili yang ada di kawasan tersebut Gili Bidara, adalah satu satunya gili yang ditingali nelayan. Ada beberpa rumah dengan pagar bedek (bamboo) di tepi barat (kalau saya tak salah kompas karena saya mengira arah dari tempat tengelamnya matahari). Selain rumah nelayan, terdapat juga sebuah mushala dengan ukuran yang cukup besar. Sayangnya saya tidak menemukan WC umum di tempat itu. Satu-satunya WC umum yang berada di samping mushalla terlihat rusak. Di tengah Gili bidara dijadikan tempat berebun oleh nelayan, tanaman kacang yang tumbuh di sebagian besar arela itu terlihat tumbuh subur dan siap dipanen. Sesanya gili ini ditumbuhi savanna.

Perairan Jernih Serupa Minyak Tanah
Gili ini memiliki perairan super jernih. Ikan atau benda-benda laut bisa terlihat jelas dengan mata telanjang dari atas perahu yang kita tumpangi, apalagi kita sengaja turun untuk menikmati keindahan bawah laut menggunakan alat snorkeling. Ya, perarian Gili Bidara merupakan surga bagi para penyuka snorkeling. Di sebelah barat pulau ini, terdapat trumbu karang yang indah, tidak jauh dari pantai. Sekitar 10 atau dua puluh meter, dengan kedalam satu setengah atau bahkan satu meter, kumpulan karang cantik bisa kita lihat. Di sebelah timur Gili Bidara, terdapat karang-karang warna-warni yang sengaja dipelihara. Menurut pemandu yang mengantar kami, karang-karang warna-warni yang tertata rapi di atas rak besi itu dipelihara oleh Karang Taruna setempat. Siapapun yang menyukai snorkeling pasti takjub dengan keindahan trumbu karang itu. Sekan berada di taman bunga warna-warni, dengan ikan-ikan menari di lorong tamannya.

Sunset dan Sunrise
Seperti pulau kecil lainnya, Gili Bidara menjadi lengkap karena kita bisa menyaksikan matahari terbit di timur pulau dan matahari tenggelam di sebelah barat pulau. Dengan jarak yang tidak jauh. Suasana saat matahari terbit memang menyehatkan. Kita bisa duduk dan menunggu kehadiran matahari di dermaga. Jangan lupa buatlah secangkir kopi dan nikmati kehadiran pagi yang segar di gili ini. Dan jika sore tiba, pindahlah ke sebelah barat gili. Suasananya tidak kalah dengan terbitnya matahari. Kalau beruntung, kita bisa menyaksikan langit memerah dengan tebaran mega, dan matahari terlap di pundak Rinjani.

Berlabuh di Pasir Putih
Saya dan teman-teman berlabuh di sebelah barat pantai saat matahari hampir tenggelam. Sore di gili Bidara, adalah sore yang tenang dan menyenangkan. Jika ingin menghindari kebisingan, duduklah sore hari dipantai ini. Maka sumpek dan galau akan sirna oleh suasana yang nyaman dipantai berpasir putih dan lembut ini. Jika sore-hari tiba, ombak tak lagi menyapa pantai. Air laut surut agak ketengah. Saya dan teman-teman duduk dan ngobrol dipantai hingga larut malam. Kami tidur di alam bebas, dibawah langit malam yang ramah dan hembusan angin pantai. Tak ada nyamuk. Sesekali cericit burung malam membisiki laut. Ngobrol sambil tiduran dialam bebas sambil mendengar petikan gitar, tentu terasa menyenangkan. Apalagi obrolannya soal hoby dan hal-hal menarik yang kita sukai.

Memotret Milky way
Setelah agak larut, sekitar pukul satu dini hari, langit Bidara menjadi gelap. Cahaya bulan meredup dan mulai terlihat terlihat bintang mengintip dari balik awan. Lambat awan pergi, dan langit bitu gelap. Tebaran bintang menjadi terlihat mendominasi langit gili.  Gili ini menjadi tempat indah untuk memotret bintang dan milkiway. Saya mencoba memotet bintang-bintang, namun karena keterbatasan lensa, hasilnya kurang memuaskan. Dua orang teman terlihat sibuk mengabadikan langit malam.


Taman Laut dan Palung Dalam
Di samping taman trumbu karang tersebut, teradat palung yang dalam dan gelap. Bagi yang takut palung tentu arela ini bisa bikin merinding. Saya sendiri membayang kan palung dalam tersebut menjadi tempat persembunyian ikan-ikan besar. Tapi rasa takut akan sirna manakala mata kita memandang dereta trumbu karang bersusun dengan gradasi warna putih yang semakin menggelap ke dasar palung. Agak keselatan terdapat karang menyerupai dinding. Keren sekali. Orang lokal menyebutnya sebagai karang meja. Karang-karang memikat ini, membuat saya ingin berlama-lama di perairan. Beberapa teman-teman yang ikut menyelam, tak henti-hentinya mengarahkan kamera ke kumpulan karang tersebut sambil bergantian saling memotret atau berpoto selfie. Berbagai jenis ikan seakan telah mengerti bahawa mereka tengah diabadikan oleh para tamu yang datang. Hanya dengan sepotong roti yang dimasukkan ke dalam botol plastic, lalu dikeluarkan sedikit demi sedikit maka ratusan ikan akan datang mengerubuti dengan lucunya. Dari balik karang-karang yang indah kita juga bisa menyaksikan ikan-ikan cantik mengintip dan malu-malu untuk mengikuti teman-temannya berebut roti.







Minggu, 15 Mei 2016

Goa Raksasa dan Keindahan Tanjung Ringgit

Pagi hari sekitar pukul 7.00 Wita saya dan keluarga berangkat dari Mataram menuju Pantai Pink Lombok Timur. Ada dua jalur menuju pantai pink. Yang pertama kita bisa langsung menuju pantai berpasir pink itu atau menggunakan perahu dari Tanjung Luar menuju pantai pink. Saya memilih jalur darat.Kendaraan umum yang langsung menuju lokasi ini tidak ada. Kita harus menggunakan motor atau mobil carter. Dalam perjalanan menuju Pantai pink kita bisa melihat hutan lindung dengan monyet-monyet liar di pinggir jalan. Jalan yang dilewati rusak dan berlubang, masih ada bekas aspal dan cor betonnya. Jalan yang rusak membuat perjalanan terasa lama. Kita melewati gerbang hutan lindung dengan portal penjaga. Waktu itu penjaga tidak membiarkan kami lolos.
Terakhir kami menemukan pertigaan yang ke kiri menuju pantai pink dan yang lolos menuju ke tanjung Ringgit. Saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Tanjung Ringgit. Terdapat pos atau kantor Dinas Perhubungan. Di samping kanan dinas tersebut terdapat  jalanan berbatu menuju arah tanjung. Wow kami terkesima dengan keindahan pemandangan di tanjung Ringgit. Tebing-tebing tinggi yang menjorok ke lautan lepas seperti ekor biaya yang sedang bermain air.
Panorama indah pantai berbatu membuata kami tak bosan-bosan mengarahkan kamera dan mengambil gambar. Saya memang pertama kali ke pantai Tanjung Ringgit. Sekitar 300 meter dari kantor perhubungan terdapat  meriam peninggalan tentara Jepang. Meriam berukuran besar ini, konon dulu ukurannya lebih panjang. Menurut penjaga gerbang meriam itu pernah dijarah dan sekarang dibuatkan tempat yang lebih bagus. Bersama kami ada puluhan orang datang dan mengabadikan gambar meriam tersebut. Di selatan  meriam terdapat sumur kecil di tepi laut. Konon sumur tersebut airnya tidak asin. Awalnya  saya tidak tahu letak meriam tersebut dan mencarinya sampai ke ujung pantai.
Di tengah perjalanan kami menemukan sebuah tulisan kecil penujuk arah bertuliskan “GOA RAKSASA 10 meter”. Penasaran saya dan anak-anak langsung menuju goa raksasa. Terdapat goa berukuran besar di tepi pantai. Saya masuk dan mengambil gambar mengobati rasa penasaran. Di sebelah timur (kalau saya tak salah menebak mata angina) terdapat tembusan goa tersebut dengan lubang besar menganga. Dari lubang besar tersebut, terlihat ribuan kelelawar bersahut-sahutan. Menurut dongeng setempat, goa tersebut tempat raksasa menyembunyikan seorang putri yang ia culik.
Saya ngos-ngosan berkeliling melihat pantai berbatu di Tanjung Ringgit. Lautan terlihat biru gelap dari atas bebatuan. Meskipun panas menyengat, kami tetap bertahan. Hanya satu dua pohon yang tumbuh tempat kami berteduh. Jika berkunjung ke lokasi ini bawalah bekal makanan dan minuman dari rumah karena di tempat ini taka da pedagang. Jangan lupa bawa pulang kembali sampahnya

Gili Petagan "Amazon" dari Lombok Timur

Menyusuri tempat asing yang sama sekali belum pernah kita jamah, memiliki senasi berbeda. Ada rasa penasaran, ada rasa senag, kadang muncul rasa rasa takut kalau-kalau ada binatang asing tiba-tiba muncul. Perasan campur baur itulah yang muncul saat saya mengunjungi Gili Petagan kemaren bersama kawan-kawan. dari Mataram.Berangkat dari Mataram ba’da Zuhur, saya dan teman-teman meluncur menuju Lotim. Rutenya dari Mataram, Masbagik, Aikmel, Labuhan Lombok dan belok kea rah utara pelabuhan Gili Limpau menuju Gili Petagan. Kalau anda berminat naik saja angkutan umum menuju Labuhan Lombok lalu cari angkutan yang mengantar ke kawasan Gili Lampu. Di pantai gili Lampu terdapat banyak nelayan yang bisa mengantarkan kita menuju gili Petagan. Nelayan mengambil upah mengantar dan meminjamkan alat snorling. Perahu yang saya tumpangi, menyiapkan 3 snorkel dan meminta ongkos Rp. 525.000. biaya sebesar itu akan menjadi murah jika kita berangkat bersama 5 sampai sepuluh atau dua belas orang.Gili Petangan memang bukan tujuan saya satu-satunya. Tapi saya ingin cerita sedikit soal gili Petangan. Untuk menjelajahi Gili dengan kumpulan bakau yang indah ini kita harus menunggu saat air laut tidak surut. Jika air laut surut maka bisa dipastikan perahu yang kita tumpangi akan kandas. Pemandu bisa menjelaskan kapan air laut tidak surut dan kita bisa menjelajah.    Gili Petagan, bersebelaha dengan gili Bidara dan Pulau Pasir atau Gili Kapal, terkenal dengan hutan bakaunya yang merupakan peninggalan dari pendudukan Jepang yang kini menjadi salah satu daya tarik wisata di Lombok Timur. Hutan Bakau ini sekarang dikelilingi Padang Lamun dan terumbu karang yang indah. Padang Lamun adalah padang rumput yang tumbuh di dalam laut. Dalam perjalanan menuju Gili Petagan, kalian bisa menyaksikan betapa birunya air laut. Warna biru tersebut menandakan perairan dalam.
Saat kita pertama kali memasuki kawasan konservasi bakau ini, perasaan deg-degan antara penasaran dan takut kalau-kalau tiba-tiba ada binatang liar yang sembunyi di balik bakau. Terus terang memasuki lorong bakau seperti di film-film horror barat yang menceritakan hutan Amazon dengan ikan piranhanya. Saat pemandu menceritakan bahwa kawasan tersebut aman-aman saja, barulah saya merasa lega. Saya bahkan turun untuk berphoto di hutan bakau Gili Petagan.
Dari kawasan hutan bakau kita bisa melihat pemandangan indah di sebelah barat. Gunung Rinjani tampak gagah menjulang. Pemandangan biru hijau Rinjani serasa menyegarkan mata. Di gili Petagan kita menghirup udara nan bersih sambil memmandangi ikan-ikan kecil bermain di perairan dangkal. Menyusuri lorong bakau, kami menemukan areal luas seperti danau di tenghanya. Di “danau” yang dikelilingi pohon bakau ini terdapat bakau-bakau yang terpisah dan tumbuh di tengahnya. Menakjubkan
"