Sudah genap setahun, Alwi Hasyimberkeliling Indonesia
menggunakan sepeda hitamnya. Tepat di bulan Oktober tahun lalu ia sudah tiba
kembali dengan selamat di Kampung Halaman di Abiantubuh Karang Bata. Bagi saya
Alwi adalah pria tangguh. Bayangkan saja, hampir setiap hari ia mengayuh
sepeda, menyusuri berbagai tempat di wilayah Nusantara.
Awalnya ia dan beberapa temannya berangkat ke Jogjakarta
menggunakan sepada, pada pertengahan Oktober 2014 lalu. Saat kawan-kawannya
pulang ke Lombok, ia memantapkan diri untuk melanjutkan perjalanan menuju
Kalimantan dan Sumatera. Sejak itulah Alwi berpisah dari rombongan. Lalu setiap
hari ia mengupdate status dan poto ditengah keletihannya bersepeda, menjelajah
berbagai tempat dengan keragaman budaya. Ia ke Kalimantan Selatan, Kelimantan
Timur, lalu kalimantan Barat, sampai di Singkawang, perbatasan Indonesia dan
Malaysia Timur.
Saya kerap menceritaka perjalanan kepada anggota grup di pesbuk.
Saat di Kalimantan saya dikontak oleh kelompok pesepda, mereka menyarankan agar
aku menginap hotel di manapun sesuka hati memilih, dan nantinya mereka yang
bayar. Senang sekali, mereka baik sekali. Saya diajak berkeliling ke
tempat-tempat yang bagus. Saat saya melanjutkan perjalanan saya diberi sangu.
Ada anvelop berisi uang satu juta lebih, kata Alwi bercerita di pinggir jalan
kampung.
Dalam perjalanan keliling Nusantara, banyak hal yang ia temukan.
Tak hanya pengalaman manis seperti cerita di atas yang ia alami. Saat paling
menegangkan menurutnya adalah manakala ia mulai mengayuh sepeda di kawasan
Sumatera. Ia sempat dihadang segerombolan preman dan meminta untuk mencoba
bersepeda. Tak kuasa menola ia pun memberikan sepeda andalannya untuk dikayuh
sang preman. Celakanya, sepeda satu-satunya itu dikayuh memasuki hutan yang
jalannya tentu tidak layak.
Tapi apa gunanya ia melarang, kalau justru jadi bulan-bulannan
para preman. Katanya ia menunggu sampai 5 jam. Dalam kebosanan menunggu, ia
sempat menyaksikan bagaimana para preman itu melompat ke atas mobil yang sedang
ngebut. Menurutnya itulah yang diceritakan orang sebagai preman “bajing
loncat”. Preman yang memiliki kemampuan melompat ke atas mobil, meski mobil
atau kendaraan tersebut berlari kencang.
Yang agak ngeri adalah kisah perjalanannya menuju nol kilo meter
di Aceh. Ia sempat di tabrak dari belakang oleh anggota GAM. Setelah ditabrak
justru sang penabrak tertawa terbahak-bahak. Ia sangat kesal dengan ke usilan
orang itu. kakinya sampai lecet dan mengeluarkan darah. Saat ia bertemu tentara
dan menceritakan kejadian itu, tentara juga tertawa setelah melihat ada bendera
merah putih terpasang di belakang sepedanya. Rupanya anggota GAM tersebut
sangat benci dengan aribut ke Indonesiaan. Banyak cerita yang ia bawa.
Menariknya ia bercerita dengan mimik kocak yang membuat pendengarnya tertawa
meskipun yang dikisahkannya cerita sedih.
Alwi bukanlah pengelana banyak uang. Ia menjelajahi Nusantara
hanya modal dengkul dan sepeda. Saat perutnya lapar diperjalanan ia bisa
menjadi seorang pembatu serba bisa di rumah makan. Saat menemukan orang yang
butuh lemari, dia menjadi seorang tukang almari yang bisa menyelesaikan dua
atau tiga almari sebelum ia melanjutkan perjalanan. Alwi termasuk beruntung.
,masa mudanya ia gunakan untuk menjelajahi kekayaan Budaya Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar